Showing posts with label qs2. Show all posts
Showing posts with label qs2. Show all posts

QS Albaqarah 196 ke 203

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Tafyīn lanjutan surah ke 2 dalam Quran, Albaqarah ayat 196 hingga 203 ini menceritakan tentang wajibnya bagus pada kedua urusan, dunia dan akhirat. Hal tersebut pada ayat 201 yang dikenal doa sapu jagad. Mari kita simak bahasannya.

 

Ayat 196 menceritakan dalil ibadah haji secara umum (baca QS1 - 567):

وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ ۗ فَاِنْ اُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِۚ وَلَا تَحْلِقُوْا رُءُوْسَكُمْ حَتّٰى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهٗ ۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ بِهٖٓ اَذًى مِّنْ رَّأْسِهٖ فَفِدْيَةٌ مِّنْ صِيَامٍ اَوْ صَدَقَةٍ اَوْ نُسُكٍ ۚ فَاِذَآ اَمِنْتُمْ ۗ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ اِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِۚ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ فِى الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ اِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗذٰلِكَ لِمَنْ لَّمْ يَكُنْ اَهْلُهٗ حَاضِرِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

"Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Akan tetapi, jika kamu terkepung (oleh musuh), (sembelihlah) hadyu yang mudah didapat dan jangan mencukur (rambut) kepalamu sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepala (lalu dia bercukur), dia wajib berfidyah, yaitu berpuasa, bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu dalam keadaan aman, siapa yang mengerjakan umrah sebelum haji (tamatu’), dia (wajib menyembelih) hadyu yang mudah didapat. Akan tetapi, jika tidak mendapatkannya, dia (wajib) berpuasa tiga hari dalam (masa) haji dan tujuh (hari) setelah kamu kembali. Itulah sepuluh hari yang sempurna. Ketentuan itu berlaku bagi orang yang keluarganya tidak menetap di sekitar Masjidilharam. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Mahakeras hukuman-Nya."

Menurut arti dari ayat 196 ini, ibadah Haji adalah zakat terlengkap sesuai perintah yang sering kita dengar, "Tegakkan sholat dan laksanakan zakat". Sesuai penjelasan QS 1 ayat 7 pada bagian 3, Haji merupakan solusi dari masalah pada manusia yang juga pencirian umum semua manusia yaitu lalai (diskusilah dengan guru untuk mendapat paham).


Ayat 197 membahas tentang bulan pelaksanaan haji (rahasia waktu) & larangan ketika berhaji. Berikut ini ayat dan artinya :

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

"(Musim) haji itu (berlangsung pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Siapa yang mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, janganlah berbuat rafaṡ, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya. Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat."

Ayat ini merupakan penguat tentang rahasia waktu dimana setiap manusia (nyaris) dalam keadaan (golongan) merugi (surah al'ashr). Larangan saat berhaji yang perlu disadari untuk me reminder setiap manusia bahwa sifat dasar manusia adalah lalai. Sifat ini membuat manusia mudah berbuat zalim dan ingkar.


Ayat 198 menajamkan apa yang tercantum pada QS 1 ayat 7 bagian 3 yaitu sesat.

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ ۗ فَاِذَآ اَفَضْتُمْ مِّنْ عَرَفٰتٍ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوْهُ كَمَا هَدٰىكُمْ ۚ وَاِنْ كُنْتُمْ مِّنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الضَّاۤلِّيْنَ

"Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu (pada musim haji). Apabila kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Berzikirlah kepada-Nya karena Dia telah memberi petunjuk kepadamu meskipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat."

 

Inti dari ibadah apapun (termasuk haji) adalah zikirullah (ingat kepada Allah). Jika benar pelaksanaan haji seorang manusia (syariat dan hakikat dijalankan) maka insyaa Allah keluar dari golongan merugi (sesat).

 

Ayat 199 menunjukkan bahwa setiap manusia wajib bertaubat, tiada kecuali karena manusia itu berdosa tiap detik hidupnya.

ثُمَّ اَفِيْضُوْا مِنْ حَيْثُ اَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"Kemudian, bertolaklah kamu dari tempat orang-orang bertolak (Arafah) dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Bahwa hijrah itu merupakan tindakan yang bersesuaian dengan bermohon ampun atau taubat. Mari kita berhijrah dari lalai menjadi ingat karena yang demikian itu tanda bahwa manusia itu selalu berdosa dan Tuhan itu maha pengampun.


Ayat 200 : zikirullah itu wajib terhubung melalui para ahli silsilah.

فَاِذَا قَضَيْتُمْ مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَذِكْرِكُمْ اٰبَاۤءَكُمْ اَوْ اَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

"Apabila kamu telah menyelesaikan manasik (rangkaian ibadah) haji, berzikirlah kepada Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu, bahkan berzikirlah lebih dari itu. Di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” sedangkan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun."

Zikrullah itu hablumminallah dan terhubung dengan ahli silsilah itu hablumminannas. Maka keduanya sama penting karena Allah memandang hati yang berzikir kepadaNya dimana hati yang berzikir itu menggerakkan tubuh manusia yang berzikir itu beradab dengan orang-orang berzikir yang mewarisi ilmu sang penghulu alam SAW.


Ayat 201 : Doa untuk kebaikan (ihsan) di dunia dan akhirat.

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Di antara mereka ada juga yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.” "

Ini adalah doa para praktisi zikir. Berbeda dengan ayat sebelumnya (200) hanya bermohon kebaikan di dunia. Hakikat doa itu adalah diucapkan lisan dibenarkan oleh hati (zikir khofi). Mari kita belajar Islam dengan lengkap.


Ayat 202 : semua perbuatan pasti dihisab (diperhitungkan).

اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ نَصِيْبٌ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

"Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan. Allah Maha cepat perhitungan-Nya."

Ketahuilah hal apapun yang dikerjakan pasti jelas perhitungannya. Allah akan menunjukkan keadilan yang sebenarnya. Tiada satupun yang menolak atau ingkar atas keadilan DIA.


Ayat 203 : untuk menjadi manusia bertaqwa hanya dengan berzikir (zohir & bathin)

 وَاذْكُرُوا اللّٰهَ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِيْ يَوْمَيْنِ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِ ۚوَمَنْ تَاَخَّرَ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِۙ لِمَنِ اتَّقٰىۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ

"Berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya. Siapa yang mempercepat (meninggalkan Mina) setelah dua hari, tidak ada dosa baginya. Siapa yang mengakhirkannya tidak ada dosa (pula) baginya, (yakni) bagi orang yang bertakwa. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan."

Berzikir itu perlu dilakukan dengan pemahaman yang benar terkait dengan waktu (hari). Maka kenalilah hakikat hari-hari dalam hidup kita (7 hari berulang). Siapa yang paham atas ilmu ini maka insyaa Allah, merekalah yang ibadahnya diterima Allah.


Kesimpulan ayat 196 - 203 :

1. Haji : ibadah zakat terlengkap, berkumpulnya rahasia waktu. (196-197)

2. Penegasan tiap manusia itu sesat, maka taubatlah setiap saat. (198-199)

3. Allah bercanda dan menyindir manusia (200) & Doa terbaik. (201)


🔊 200-201 (9Okt24) :


4. Keadilan Allah dan metode zikir yang sesuai waktu (202-203)


والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

QS Albaqarah 25 ke 29

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Diskusi TAUBI kali ini membahas Tafyīn lanjutan surah ke 2 dalam Quran, Albaqarah ayat 25 hingga 29 yang isinya tentang "Beda paham beriman dengan kafir". Mari kita bahas/diskusikan 5 ayat ini (25 hingga 29).

 

Ayat 25 : balasan surga bagi pelaku ibadah secara zohir dan bathin (dilakukan bersamaan)

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَالُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِهًا ۗوَلَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

"Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberi rezeki buah-buahan darinya, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami sebelumnya.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang disucikan. Mereka kekal di dalamnya."

Hanya yang beribadah zohir dan bathin yang mendapat kabar gembira tentang balasan yang abadi yaitu surga. Adapun semua manusia (nyaris) hanya beribadah secara zohir atau fisik. Hanya mengerjakan tanpa paham apa yang dikerjakan sehingga tiada ibadah pada sisi bathin (hati).


Ayat 26 : rahasia dari petunjuk tersurat yang hanya dipahami oleh orang beriman

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْيٖٓ اَنْ يَّضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ وَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهٖ كَثِيْرًا وَّيَهْدِيْ بِهٖ كَثِيْرًا ۗ وَمَا يُضِلُّ بِهٖٓ اِلَّا الْفٰسِقِيْنَۙ

"Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil daripada itu. Adapun orang-orang yang beriman mengetahui bahwa itu kebenaran dari Tuhannya. Akan tetapi, orang-orang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang disesatkan-Nya. Dengan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Namun, tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu, selain orang-orang fasik,"

Ayat ini menegaskan bahwa tiada guna memberikan petunjuk atau penjelasan kepada orang kafir dengan menggunakan akal sebagai sumber kebenaran. Sungguh manusia itu semuanya (nyaris) dalam golongan sesat (merugi). Maka sampaikan sesuatu jika ada petunjuk dari Allah untuk menyampaikan.

 

Ayat 27 : Ciri orang-orang fasik.

الَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖۖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

"(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan (silaturahmi), dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi."

Ciri orang yang fasik itu adalah sering ingkar janji, khususnya perjanjian yang telah ditetapkan/disepakati, memutus silaturahmi dan berbuat zalim, baik kepada diri, terlebih pada makhluk lainnya.


Ayat 28 : sindiran kepada manusia, khususnya orang-orang fasik

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

"Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia akan mematikan kamu, Dia akan menghidupkan kamu kembali, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan?"

Mari kita hubungkan pikiran yang ada pada akal dengan pikiran yang ada pada dada manusia. Carilah seorang ahli untuk belajar tentang ini. Sungguh semua dari tiada menjadi ada (diadakan Allah) dan akan (pasti) kembali menjadi tiada. Sadarilah!


Ayat 29 : 

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

"Dialah (Allah) yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."

Sungguh bahwa Allah itu tiada seumpama. DIA yang menciptakan semua ini tidak mungkin sama dengan manusia mencipta sesuatu yang pada hakikatnya membuat dari unsur-unsur sudah Allah ciptakan. 


Kesimpulan ayat 25 - 29 adalah :

1. Balasan Keseimbangan dan Hal Tersirat (25-26)

2. Ciri & Sindiran bagi orang Fasik (27-28)

3. Allah menjadikan dengan Manajemen (proses yang teratur) (29)



والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

 

QS Albaqarah 21 ke 24

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Diskusi TAUBI kali ini membahas Tafyīn lanjutan surah ke 2 dalam Quran, Albaqarah ayat 21 hingga 24 yang isinya memberi perintah utama dalam hidup dengan keterangan yang harus dimaknai secara hakikat juga, bukan hanya secara akal. Mari kita simak !

 

Ayat 21 menjelaskan tentang perintah utama tersebut, yaitu menyembah.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

" Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa " 

 

Mari kita coba pahami makna sembah ('abada) dan takwa (taqwa).

Sembah ('abada) diartikan secara umum mengikuti perintah/aturan atau sejenisnya yang menunjukkan kepatuhan. Maka tindakan seorang penyembah jelas adanya tapi menjadi berbeda ketika yang disembah itu yang maha gaib. Dialah Allah yang tiada satupun yang mampu melihatnya. 

Lantas bagaimana definisi menyembah Allah yang mendekati "sesuai" ? Jawaban yang jelas adalah sebagaimana para sahabat nabi Muhammad SAW yang langsung bertemu dan belajar dengan beliau. Artinya bahwa wajib bertemu langsung dengan ahlinya untuk memaknai hakikat dari menyembah. Karena tidaklah etis atau pantas mematuhi/mengikuti yang tidak dikenal. Maka kenalilah yang disembah itu. 


takwa (taqwa) yaitu percaya dan membenarkan adanya Allah dan hanya takut kepada Nya. Bagaimana kita mampu menjadi takwa ini jika pemahaman menyembah masih belum jelas. Maka makna dasar dari takwa ini adalah hanya takut kepada Allah. Untuk mengurai maknanya lebih dalam maka wajib paham dulu makna sembah.

 

Ayat 22 :

الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً ۖوَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui."

 

Ayat ini menyebutkan alasan jelas tentang wajibnya melaksanakan perintah utama di ayat 21, yaitu menyembah tuhan kalian (rabbakum) karena nikmat dalam hidup yang telah dan sedang dirasakan oleh semua manusia, yaitu alam ini beserta semua fasilitas di dalamnya.

 

Ayat 23 :

وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

"Dan jika kamu meragukan (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar."   

 

Ayat ini adalah sindiran Allah kepada manusia dengan cara memberi tantangan untuk membuat ayat yang mirip dengan salah satu surah di Alquran. Sindiran ini menunjukkan bahwa banyak manusia yang inkar (menolak) untuk melaksanakan perintah utama. Hal ini disebabkan kebanyakan manusia merasa benar tentang pemahaman menyembah kepada tuhan. Padahal nyaris seluruh manusia jauh dari praktek yang benar dalam menyembah tuhan. Hal tersebut ditegaskan dengan jelas pada surah Alashr (Golongan merugi dan kecuali).


Ayat 24 :

فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَ

"Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir."

 

Atas sikap kebanyakan manusia (ingkar karena merasa benar), maka Allah dengan jelas memberikan ancaman yaitu siksa (neraka) dan menamai kebanyakan manusia itu dengan sebutan kafir atau tertutup dari petunjuk Allah karena sombong (merasa benar). 


Kesimpulan QS Albaqarah 21 s/d 24 :

1. Tujuan utama dalam hidup adalah menyembah tuhan.

2. Untuk mencapai tujuan, maka lakukan sikap takwa (takut hanya kepada Allah).

3. Ingatlah bahwa kita telah diberi selamat (islam) yaitu semua nikmat dalam hidup.

4. Sadarlah bahwa kebanyakan manusia dalam golongan kafir (merugi). 

 

 

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ - إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ‎

 

QS Albaqarah 8 ke 20

 

 بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Kajian Tafyīn berikut membahas lanjutan surah ke 2 dalam Quran, Albaqarah ayat 8 sampai 20 yang bercerita tentang (Allah berkalam ke nabiyyunaa Muhammad ﷺ) tentang ciri dari orang munafik (sesuai dengan surah almaa'uun 107).

Rangkuman nya adalah sebagai berikut :

8   > manusia berkata : kami beriman. Padahal sebaliknya

9   > yg berkata td merasa MENIPU Allah, padahal diri sendiri

10 > hati mereka sakit, lalu Allah tambahi. Mereka pendusta

11 > dinasehati jgn merusak, mereka akui sdh berbuat baik

12 > Allah menegaskan : merekalah sebenarnya berbuat rusak

13 > disampaikan utk beriman, mereka mengabaikan (remeh)

14 > mereka (munafik) itu pendusta, tdk bs dipercaya

15 > Allah akan menghinakan mereka dan dibiarkan sesat

16 > mereka bercerita dusta (dagang utk hidup) dan merugi

17 > mereka beri petunjuk ke umat, mereka sendiri sesat

18 > mereka sakit bathinnya (tuli,bisu,buta) dan abadi

19 > mereka tolak (ttp kuping) rahmat Allah dan takut mati

20 > Allah masih beri mereka waktu menuju jalan petunjuk

 

Penjelasan materi ini dalam video :

Bagian 1 :

Bagian 2 :

 

Bagian 3 :


 

 

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

 

QS Albaqarah 1 ke 7

 

 بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kajian Tafsir 'Illiyyīn berikut membahas surah ke 2 dalam Quran, Albaqarah ayat 1 hingga 7 yang menceritakan pencirian golongan orang-orang bertaqwa, beriman dan kafir.

 

#update9Sept2022

Untuk penjelasan ayat 1 ( 3.19. s/d 9.03) dapat dibaca di sini. Surah pertama dalam quran (alfaatiha) merupakan gambaran manusia yang semuanya pada alam bathil. Ayat ini memiliki hikmah/rahasia tentang manusia. Huruf Alif, lam dan mim mengandung makna luas tentang keseimbangan.

 

Di Ayat 2 (9.05 s/d 10.06) menjelaskan bahwa tiada beroleh yakin jika tiada ragu. Maka keraguan itu wajar/normal bahkan wajib jika ingin mengenal yang Maha Benar (Haqq). Dan hal ini (ragu) lalu belajar untuk mendapat paham sehingga yakin disebut taqwa. Rumus Taqwa adalah Tq = Rg + Yq. Dimana Rg : Ragu dan Yq : Yakin. Dan semua itu terangkum dalam Quran (kitaab).

 

Pada ayat 3 (10.06 s/d 11.46) berisi tentang ciri orang-orang bertaqwa. Yaitu :

1. Beriman/percaya kepada yang gaib.

Allah memberi sindiran dengan kata gaib. Lihat bagaimana Allah menggambarkan bahwa manusia tidak mudah beriman/percaya kepada Allah, meskipun sudah beragama Islam (bersyahadat dan ibadah lainnya). Pada kehidupan sehari-hari, malah gaibnya jin yang banyak dibahas / diceritakan. Inilah rasa taqwa pada manusia umumnya.

2. Menegakkan Sholat.

Sungguh sangat jelas bahwa sholat itu bukan sekedar dikerjakan tapi juga harus ditegakkan. Disinilah harus/ wajib paham tentang hikmah sholat.

3. Menyampaikan amanah kepada yang berhak.

Ciri ke 3 ini menunjukkan bahwa silaturahmi atau hablumminannas itu sama pentingnya dengan sholat. Karena semua itu berujung pada adab kepada para kekasih Allah yang telah tegak sholatnya terus menerus (istiqomah). Maka belajarlah langsung dengan bertemu manusia yang hidup dan sholatnya selalu tegak.

 

4. Beriman kepada petunjuk terdahulu dan akan datang.

Ayat 4 (11.48 s/d 12.41) mengandung makna bahwa siapapun mengaku bertaqwa kepada Allah, maka wajib beriman/percaya sejarah masa lalu (kitab-kitab sebelum quran) dan kejadian akan datang (hari akhirat/qiyamat).

 

* Ketetapan pada manusia yang mendapat petunjuk dan beruntung

Ayat 5 (12.42 s/d 13.05) ini menyatakan secara tersirat bahwa Allah telah menetapkan apapun kejadian pada hidup ini dimana ketetapan tersebut sifatnya gaib atau rahasia. Tiada satupun yang tahu (kecuali yang DIA kehendaki / para kekasih).

 

Ayat 6 dan 7 (13.07 s/d 14.35) menceritakan ketetapan Allah tentang orang yang tidak beriman atau kafir (ayat 6) dan orang yang munafik/fasiq (ayat 7) karena Allah telah mengunci perangkat tubuh (hati, telinga dan mata) mereka untuk menerima petunjuk.

 

Pada kajian ini kita tampilkan juga dalam bentuk audio (suara) untuk memberikan nuansa pemahaman yang lebih baik. 

Ingatlah bahwa apapun materi yang ada baik tulisan ataupun campuran audio visual pasti TIDAK mengandung KEBENARAN. Semua hanya untuk memudahkan PENGENALAN ( معرفة )

 

Selamat menikmati sajian ini, menuju PENGENALAN pada yang HAQ.

Channel Youtube Taubi klik disini.


 

Video yg sama dalam web ini :


 

Dapat dilihat juga di laman FB : Diskusi Taubi - QS 2 : 1-7

 

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ - إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ‎

Tausiyah Qolbi - TAUBI
Media informasi bersumber dari kisah perjalanan ruhani para hamba Allah
Mari membaca dengan bijak dan berdiskusi langsung dengan guru/mursyid

Perhatian !!!
Siapapun pembaca bertanggungjawab sendiri atas efek apapun dari setiap artikel TAUBI

Wassalam - الكزهدي





-----

🔺🔺 - Ke Atas